Minggu, 24 Oktober 2010

Menari di Langit GAZA

0 komentar
“Salim! Lari......lari.......” aku berteriak memangil-manggil Salim adikku yang tertinggal di belakangku. Di belakang Salim tampak dua orang tentara Israel memburu dengan marah, seraya mengarahkan senjatanya ke arah kami.
Salim berdiri membelakangiku tanpa menghiraukan perintah yang tadi kuteriakan. Ia menghadang kedua tentara itu dengan nafas yang setengah memburu. Tangannya mengepal memegang batu dan kerikil. Ia menunggu, seperti menghitung jarak tembak kekuatan lemparan tangannya.
“Lari.... Salim! Lari......” aku kembali berteriak. Hatiku semakin cemas. Kedua tentara itu semakin mendekat. Salim melemparkan batu di tangannya.
Buuukk!
Tepat mengenai pelipis salah satu tentara. Darah mengalir bercampur keringat dipipinya yang kian menghitam karena sengatan mentari yang mendera. Ia menyeringai marah, moncong senjata langsung diarahkan ke Salim.
“ Tidak........”
Dooorrrr.....! sebuah senapan mengutus peluru berbalut maut merobek udara panas disiang ini. Salim terhempas kehamparan pasir lembut ditingkahi debu yang menyeruak keudara seiring tubuh Salim yang ambruk kebumi. Luka mengnganga disertai asap putih  tipis mengepul di dada Salim yang terkoyak membuat tubuhku gemetar memandang seonggok tubuh penuh darah yang hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.
Tubuh Salim meregang hebat, matanya membulat seolah ingin lepas dari jeratan saraf-saraf tubuhnya. Ia seperti merasakan sakit yang sangat. Detik kemudian ia sudah lunglai tak bergerak. Mungkin Malaikat maut sudah selesai melaksanakan titah Tuhannya, menjemput kekasihnya untuk dikumpulkan di tempat yang sangat indah bersama para syuhada.
“Itu satu lagi...” tunjuk seorang tentara Israel pada temannya yang baru selesai meniup asap yang mengepul angkuh dari moncong senjata. Tentara itu mengarahkan moncong senjatanya yang sombong kearahku. Tubuhku semakin gemetar. Rasanya kaki ini seperti tak menginjak bumi. Apakah aku juga akan mati seperti Salim adikku?
“Tidak usah kau tembak dia....” Cegah tentara yang tadi menembak Salim adikku, seraya menurun laras senjata temannya.
“Tapi dia juga patut mati.....” ia bersekeras.
“Tidak perlu kau menembaknya. Coba lihat!” Tentara itu menunjukku dengan dagunya “dia sudah gemetaran, celananya sudah basah, kencing dicelana karena ketakutan.....”
Hah...kencing. Aku melihat ke bawah. Ya Allah. Ternyata benar celanaku sudah basah. Kencing tanpa sadar karena dicekam ketakutan.
Kedua tentara itu kemudian mentertawakan aku dengan sinis. Tubuhku semakin bergetar. Tak mampu menguasai keadaan.
“Kita tak perlu menembaknya, buang-buang peluru. Mungkin ia akan mati dengan sendirinya karena ketakutan......” lanjut tentara itu lagi mengajak temannya berbalik meninggalkanku “ Lebih baik kita kembali ke Camp. Perburuan hari ini sudah cukup. Dan komandan kita pasti senang mengdengar laporan kita.....”
Masih sempat kudengar pembicaraan mereka yang sayup-sayup terbawa angin. Ah. Ternyata kami dianggap tak lebih bagai binatang buruan, yang kapan saja bisa mereka buru dan tembaki.
Kudekati tubuh adikku yang diam membeku dengan simbahan yang mempekat disisi tubuhnya. Seharusnya aku bisa lebih tenang dengan kepergian dua tentara Israel itu. Tapi tidak. Aku justru semakin gemetar. Kepalaku terasa pening dan berkunang melihat genangan darah yang membanjir. Ah, tidak, aku takut melihat darah, sungguh takut. Aku tak tahu kenapa. Bagiku sangat mengerikan. Aku tak seperti laki-laki Palestina lainnya yang sudah terbiasa dengan darah. Mungkin setiap hari mereka melihat darah. Tapi aku selalu seperti ini. Gemetar.
Kepalaku makin terasa pening dan pusing terasa bumi ini berputar-putar, pandanganku mulai buram dan  menguning. Masih sempat kulihat beberapa orang yang kukenal berlari kearahku. Mungkin letupan senjata Israel itu yang mengundang mereka ke mari. Mereka semakin dekat, namun aku tak sempat menyapa, tubuhku ambruk kepasir. Gelap.
***
Aku meringkuk disudut rumahku. Ah, mungkin tak pantas disebut rumah karena cuma berupa sisa-sisa reruntuhan bangunan yang masih bertahan, yang luput dari serangan pesawat tempur Israel, yang terdengar mendesing melewati pemukiman ini. Namun, bagiku sudah cukup untuk melindungi dari sengatan matahari dan serangan dingin dimalam hari.
Aku masih teringat kejadian dua hari yang lalu. Butiran bening tanpa disuruh meleleh, membentuk larik-larik jejak dipipiku. Kini aku tinggal sendiri. Salim adikku, satu-satunya keluarga yang aku miliki, juga telah pergi meninggalkanku. Abi dan Umi telah lama meninggalkan kami. Mereka rela menghadang peluru yang menerjang, untuk menghalangi tentara-tentara Israel merebut tanah kelahiran mereka.
“Abbas. Kau harus selalu melindungi Salim adikmu. Kalian harus selalu bersama saling membantu. Untuk menjaga tanah warisan leluhur kita ini...”
“Baik, Umi. Abbas akan selalu menjaga Salim dan tanah kita ini.....” Pesan Umi tiba-tiba mengoyak memori ingatanku satu tahun yang lalu sebelum Umi tiada.
Umi. Ah, Umi. Pasti ia akan sangat marah padaku. Seharusnya aku melindungi Salim. Sesuai janjiku pada Umi. Tapi aku membiarkan adikku meregang nyawa dihadapanku tanpa bisa berbuat apa-apa. Seharusnya aku menjaganya. Aku justru lari mendahului Salim saat tentara Israel itu mengejar. Rasa takut akan kematian membuat aku melupakan janjiku pada Umi. Kenapa? Kenapa aku jadi penakut. Tak seperti Salim dengan gagah berani menghadapi dua tentara Israel itu walau hanya bersenjatakan batu dan kerikil ditangannya.
Kenapa aku juga tak bisa seperti teman-temanku yang lain. Dengan berani melempari tentara Israel dengan batu yang melewati pemukiman ini tanpa takut terkena timah panas. Kenapa darah pahlawan tidak mengalir dalam darahku. Padahal Abi dan Umi adalah pahlawan. Kenapa cuma Salim yang mewarisi darah keberanian. Kenapa aku menjadi pengecut. Kenapa?
Aku tak pantas menjadi seorang lelaki Palestina. Aku hanya pantas menjadi perempuan. Ah, tidak. Tidak. Mungkin menjadi perempuanpun aku tak pantas, disini tak ada perempuan sepenakut diriku. Apakah aku hanya seorang banci, seperti mereka (dunia) yang hanya diam terpana melihat penindasan dinegeri para Nabi ini, membiarkan para Zionis meluluh lantakkan rumah kami, membiarkan anak-anak kehilangan orang tuanya, membiarkan para istri-istri menjadi janda. Kemarin kudengar Israel menembaki kapal diperairan internasional dekat jalur gaza yang mengangkut para relawan yang hendak melewati perbatasan. Didalamnya banyak warga negara dari negara lain. Apakah mereka tetap akan diam? Walaupun warga negara mereka sendiri yang menjadi korban. Oh,sungguh aku tak ingin disebut banci.
“Abbas....” sebuah suara memudarkan kegalauanku, aku menoleh kesumber suara. Faruq yang berdiri dibibir tembok yang hancur tampak tersenyum padaku, ia dengan lincah melewati puing-puing tembok yang berserak bagai tentara yang terlatih menuju kearahku.
“Apa masih teringat Salim?” tanyanya setelah duduk berjajar denganku bersandar didinding tembok.
Aku hanya mengangguk tanpa menoleh kearahnya. Faruq menghembuskan nafas panjang, terdengar mendesah laksana desau angin sahara.
Faruq merengkuh pundakku. “Sudahlah Abbas. Antum harus mengikhlaskan Salim. Salim pasti lebih bahagia disana” Faruq menatap angkasa, menerawang, tampak gemintang berlomba  memperlihatkan cahayanya ke alam maya pada ini. “ Dan aku yakin, Salim pasti sudah berkumpul kembali dengan Abi dan Umi mu disana.”
Aku pun berharap apa yang dikatakan Faruq benar. Salim lebih bahagia disana. Dari pada disini yang hanya ada perang, darah dan tangis. Aku tak sabar menunggu janji Tuhan akan terlaksana. Israel hancur lebur dengan segala keangkuhan dan kesombongannya.
“Ayo, kita ke masjid. Shalat isya berjamaah...” ajak Faruq menarik tanganku. Dari kejauhan terdengar suara azan yang menggema. Aku tak bisa menolak, walaupun hatiku belum sepenuhnya tenang, tapi aku juga harus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang Muslim.
Aku mengiringi langkah Faruq di belakang menuju masjid, begitu juga dengan teman-temanku yang lain, mereka tampak beriringan. Semuanya sudah rapi, berjajar lurus mengisi shaf-shaf yang kosong. Aku dan Faruq berada di shaf yang kedua. Semua beristighfar sebelum melakukan ritual yang dikerjakan lima kali dalam sehari semalam ini.
Boooommmmmm!
Sebuah ledakan terdengar disamping masjid disaat salamku yang kedua. Bumi bergetar. Namun tak cukup membuat masjid tempat kami shalat hancur. Aku kaget, begitu juga dengan Faruq dan yang lain. Ya Allah, apa yang terjadi? Apa tentara Israel kembali menyerang?
Aku berlari keluar tanpa sempat berdoa mengiringi langkah Faruq yang telah mendahuluiku. Di belakangku, yang lain juga melakukan hal sama mencari sumber suara. Semuanya menghambur. Asap hitam membumbung ke udara, pasir dan debu menjadi satu  membentuk gumpalan-gumpalan pekat di dekat ledakan, sehingga jarak pandang kami terbatas.
Dari kejauhan kulihat temaram gumpalan-gumpalan cahaya dari tank-tank Israel merangsek cepat menuju pemukiman kami. Melumat apa yang mereka lewati dengan angkuh.

“Israel menyerang.....” teriak sebuah suara di belakangku. Sekejap semuanya telah menghambur dari halaman masjid. Begitu juga dekat Faruq sudah lenyap dari sisiku. Sementara aku masih mematung di halaman masjid. Aku panik. Apa yang harus kulakukan?
Tank-tank Israel telah memasuki pemukiman, menembaki bangunan-bangunan yang masih berdiri untuk diluluh lantakkan. Tentara-tentara yang mengiringi badan besi itu, juga tak mau kalah, memuntah amunisi tanpa arah, menerjang apa yang ada dihadapannya.
Semua panik. Para wanita dan anak-anak berlarian tanpa arah, mencoba menyelamatkan diri dari amukan para zionis. Para lelaki tampak melakukan perlawanan. Baku tembak pun terjadi. Aku semakin panik. Aku ingin lari bersembunyi, tapi hati kecilku melarang melakukan itu.
“Abbas..., kalau kamu lari, kamu sama saja seperti mereka. Banci”
“Aku tak suka disebut banci....”
“Kalau kamu tak ingin disebut banci. Lawan para Israel biadab itu....”
Tubuhku terasa gemetar. Keringat dingin mulai menembus pori-poriku. Terasa gerah. Kukumpulkan keberanianku. Aku ingin melawan. Aku tak ingin disebut banci.
Boommm!!
Sebuah ledakan kembali mendarat di belakangku. Aku terjerembab menimpa pasir. Seketika rasa perih mendera di punggungku. Berdarah. Namun cuma luka kecil. Terkena serpihan ledakan.
“Abbas! Berlindung! Berlindung!” Faruq berteriak di balik gugusan tembok yang hancur, mengayun-ayunkan tangannya agar aku menuju ke arahnya. Aku bangkit, walau rasa nyeri semakin terasa perih. Aku berlari setengah membungkuk, seperti yang dilakukan para pejuang saat perang untuk menghindari terjangan peluru di udara. Dengan susah payah, akhirnya sampai juga aku di sisi Faruq.
Ya Allah. Ternyata Faruq memegang senjata. Aku tak tahu jenis senjatanya. Sesekali ia membalas tembakan tentara Israel, dan kembali merunduk, berlindung di balik tembok. Ia tampak mahir menggunakan seperti sudah terlatih. Dari mana ia mendapatkan senjata itu? Apakah ia salah satu anggota Hamas, kelompok pejuang yang paling dicari Israel. Ah, bukan saatnya mencari tahu. Yang penting saat ini, bagaimana untuk bertahan.
“Kamu bisa menembak?” Faruq tiba-tiba bertanya. Sekilas ia menatapku, kemudian matanya kembali tertuju kedepan, mengawasi tentara Israel yang semakin dekat ke arah kami. Suara peluru-peluru yang merobek udara terdengar berdesing memekakkan ditelinga. Ditingkahi dentuman-dentuman bom.
Aku menggeleng menjawab pertanyaan Faruq. Mana mungkin aku bisa menembak, memegangnya saja aku tak pernah.
“Pegang ini....” Faruq tiba-tiba menyerahkan senjata di tangannya kepadaku. Aku meraihnya, walau tak mengerti apa maksudnya menyerahkannya padaku.
“Tembak tentara Israel...” lanjutnya lagi.
“Tapi...”
Faruq sudah menjauh dari sampingku. Sepertinya ia ingin mengambil senjata yang tergeletak didekat tubuh yang tewas bersimbah darah tak jauh dari tempat kami berlindung. Belum sempat tangannya meraih senjata. Croooossss....! Darah segar muncrat dari kepalanya ditembus timah panas Israel. Tubuhnya roboh, menggelinjang, meregang nyawa, persis seperti yang kulihat pada Salim adikku.
Aku tak sanggup berteriak melihat semuanya, mulutku terasa terkunci. Tubuhku semakin gemetar memeluk senjata di tangan.
“Tembak tentara Israel...” Kalimat terakhir yang diucapkan Faruq seakan kembali terdengar di telinga. Bayangan Abi, Umi, Salim, dan Faruq yang melintas seolah merayu untuk membangkitkan keberanianku.
Kuarahkan moncong senjata ke depan, mencari sasaran para Zionis. Senjata yang kupegang bergetar, mengikuti irama dari tubuhku. Namun kucoba untuk menguasai keadaan. Agar tenang.
“Aku harus berani..... aku harus berani!” Kuyakinkan diriku sendiri.
Aku melihat sasaran di depan mata seorang tentara Israel mendekat. Kutarik pelatuk dengan jari telunjuk tangan kananku seperti yang kulihat saat Faruq menggunakannya tadi.
Doooorrrr!
Sebuah peluru dari senjata yang kupegang meluncur deras, menuju sasaran di depan. Tubuhku sedikit terdorong ke belakang karena guncangan. Namun sayang peluru meleset, karena senjata yang kupegang tidak stabil karena getaran tubuhku. Tentara yang tadi kubidik kaget, tak menyangka masih ada orang di balik tembok ini. Ia membalas tembakan, menghujaniku dengan senjata otomatisnya. Aku hanya bisa bertahan tanpa bisa membalas tembakannya. Keberanianku sudah sepenuhnya tumbuh, semangat jihadku kini telah muncul. Kupegang senjata kuat-kuat, tak ada lagi getar terasa.
Suara tembakan berhenti menghujaniku. Mungkin saatnya aku membalas, paling tidak aku bisa membunuh satu dari mereka. Betapa kagetnya, saat aku berbalik hendak kembali menembak, sebuah moncong senjata tiba-tiba menempel di dahiku. Ah, tidak, ternyata tentara yang tadi menembaki sudah ada dihadapanku. Ia tampak menyeringai sambil tertawa sinis. Mungkin kematian sebentar lagi akan datang menjemputku, anehnya aku tidak lagi gemetar, seakan-akan sudah siap.
“Rupanya kamu masih hidup.....” seru tentara itu menatapku tajam. Todongan senjatanya semakin kuat, membuat dahiku terasa sakit. “Kukira kamu sudah mati kemarin karena ketakutan....”
Rupanya ia adalah tentara Israel yang kemarin menembak adikku, dan ia masih ingat dengan wajahku. Genggamanku terasa semakin kuat memegang senjata. Bayangan Salim saat meregang nyawa kembali melintasi pikiranku.
“Tapi kali ini aku tak akan memberimu ampun lagi. Kau akan mati....” ia menyeringai lebar penuh kebencian menatapku. Gigi-giginya bergemeletuk. Ia bersiap menarik pelatuknya.
Kukumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa. Mata kami saling bertabrakan tajam. “Mungkin aku akan mati. Tapi kamu juga akan mati....” Kukebaskan senjata yang kupegang dengan sekuat tenaga. Tentara itu kaget tak menyangka aku masih bisa melakukan perlawanan. Ia terhuyung ke belakang. Ini kesempatanku untuk...
Dooorrr!
Kutembakan senjata ketubuhnya. Tepat menghujam ke dadanya, seperti ia menembak Salim. Ia  semakin terhuyung. Darah segar membasahi seragam. Tubuhnya terhempas. Di luar dugaanku ia masih sempat menarik pelatuknya.
Dooorrrrrr!!!
Timah panas menembus dadaku. Senjataku terlepas. Replik memegang dada. Warna merah menghiasi telapak tanganku. Tubuhku tumbang ke bumi.
Kurasakan tubuhku mulai terasa panas. Keringat dingin menghiasi pori-pori tubuhku. Pandanganku mulai kabur. Kulihat samar-samar bayangan Abi, Umi, Salim, Faruq melambai-lambaikan tangannya. Aku ingin menggapai mereka, namun tak bisa.
Sesosok tubuh berpakaian putih, tiba-tiba sudah ada di hadapanku, wajahnya putih bersih, senyum indah terlukis di wajahnya yang tampan. Ia ingin menjemputku. Kurasakan ada sesuatu yang ditarik dari tubuhku, rasanya sakit tiada tara, bagai duri berserabut yang ditarik paksa dari tubuhku. Sakit. Perih. Aku berteriak kesakitan. Ia tak peduli. Ia  tetap melaksanakan tugasnya dengan wajah yang terus tersenyum. Kalimat Syahadat mengakhiri rasa sakitku.
Aku melayang ke udara mengikuti sosok putih yang membawaku. Aku masih bisa melihat tubuhku yang terbujur kaku bersimpah darah dibumi. Apakah ini yang disebut mati?. Aku semakin menjauh, menembus awan-awan yang berarak, menghampar dilangit biru.
Abi, Umi, Salim, dan Faruq tampak tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu mereka disini, ditempat terindah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku, serta teman-teman yang telah lama berada di sini. Tak ada lagi tangis, tak ada lagi darah. Semua tampak bahagia. Kini kami bebas menari di atas langit Gaza. Langit yang selalu menangis menyaksikan bumi penuh darah.

Barabai, 6 Juni 2010

Penulis : Muhammad Saleh
By. Annida

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklan Gratis

Powered byEMF Forms Online
Report Abuse
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...